Kategori
Pemahaman kami

Melakukan survei baseline yang mudah, murah, dan cepat menggunakan Google Surveys

Survei baseline penting untuk memahami sasaran komunikasi dengan lebih mendalam sebelum kampanye, namun biasanya mahal dan lama

Semua kampanye, mau komersial ataupun sosial, selalu bertujuan untuk mengubah pendapat, perasaan, dan perilaku mereka yang disasar. Untuk merancang strategi dan materi kampanye, serta untuk mengetahui apakah perubahan yang diharapkan benar-benar terjadi atau tidak, kita perlu mengukur pendapat, perasaan, dan perilaku kelompok sasaran sebelum kampanye dimulai. Cara yang paling dianjurkan adalah melakukan survei kuantitatif dengan menarik sampel secara acak, atau biasa disebut sebagai survei baseline.

Namun berdasarkan pengalaman kami sejak 2016, jarang sekali ada organisasi nirlaba atau masyarakat sipil yang melakukan survei baseline sebelum memulai kampanye. Alasannya bermacam-macam. Sebagian ada yang tidak tahu bahwa survei baseline perlu dilakukan. Sebagian lagi ada yang sudah tahu tapi terhambat faktor biaya atau waktu.

Survei baseline dengan penarikan sampel dalam jumlah besar secara acak memang biasanya butuh biaya yang cukup mahal dan waktu yang cukup lama. Untungnya, ada solusi parsial yang bisa membantu kita melakukan survei baseline dengan mudah, murah, dan cepat. Meski perlu diingat, cara ini pun punya beberapa keterbatasan yang juga akan kita bahas di sini.

Survei baseline menggunakan Google Surveys

Google Surveys adalah salah satu platform survei yang bisa menyebarkan kuesioner secara daring ke pengguna internet yang membaca konten atau menggunakan aplikasi mobile di situs-situs yang masuk dalam jaringan Google Opinion Rewards for Publishers. Untuk bisa masuk ke dalam jaringan ini, pengelola situs bisa mendaftarkan situsnya, dan jika diterima akan mendapat imbalan pemasukan dari iklan berdasarkan jumlah kuesioner yang terisi.

Diambil dari White Paper: How Google Surveys work

Sayangnya Google tidak mengungkapkan ada berapa situs di Indonesia yang tergabung dalam jaringan ini. Tapi sebagai pembanding, situs di Indonesia yang “menyewakan” ruang buat iklan dari Google lewat AdSense ada sekitar 52 ribu menurut builtwidth.comBiasanya situs mencari pemasukan tambahan mulai dari AdSense, dan lalu sebagian akan juga ikut masuk ke Google Opinion Rewards for Publishers.

Google Surveys menyebarkan kuesioner ke situs-situs itu, dan secara acak pengunjung yang “terpilih” akan disodokan kuesioner. Metode “mencegat” pengunjung situs disebut web intercept, dan pada hakekatnya sama saja dengan metode pemilihan responden dengan mencegat orang di tempat-tempat umum, misalnya mall intercept. Di tahun 2018, response rate dari Google Surveys di situs-situs dalam jaringan adalah 25% (artinya, 1 dari 4 pengunjung situs yang disodorkan kuesioner akhirnya mau mengisinya sampai rampung).

Dengan kata lain, pada hakekatnya metode penarikan sampel dari Google Surveys adalah convenience sampling, bukan random sampling. Kalau metode penarikan sampelnya berbasis kemudahan (convenience), bagaimana kita bisa tahu data yang terkumpul bisa mewakili populasi? Pertama, mari kembali ingat bahwa populasi dari Google Surveys di Indonesia dan di negara manapun adalah pengguna internet, bukan populasi nasional. Menurut Digital 2022 Global Overview Report yang disusun oleh We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna internet di Indonesia adalah 74% dari populasi atau ± 202 juta orang. Kedua, untuk mengurangi bias, Google Surveys secara otomatis akan melakukan pembobotan hasil survei. Misalnya dari sampel survei, terkumpul persentase perempuan dan laki-laki sebesar 52% dan 48%, sementara di populasi pengguna internet di Indonesia, proporsinya adalah 50% dan 50%. Google Surveys akan memberi bobot sebesar 52 / 50 = 1.04 pada semua responden perempuan, dan 48 / 50 = 0.96 ke semua responden laki-laki. Pembobotan yang sama juga akan dilakukan untuk usia.

Kalau metode penarikan sampel Google Surveys convenience sampling, lalu apa bedanya dengan menyebarkan kuesioner survei ke pengikut organisasi di media sosial? Betul, menyebarkan kuesioner ke follower secara teknis memang juga termasuk metode convenience sampling. Namun metode seperti ini mengandung bias seleksi yang lebih besar, karena untuk seseorang bisa jadi follower media sosial sebuah organisasi, mungkin ia sudah jauh lebih tertarik dan paham tentang isu yang dibahas organisasi tersebut. Bias seleksi ini akan berkurang signifikan di Google Surveys.

Tiga langkah mudah membuat Google Surveys

Pembuatan survei menggunakan Google Surveys tidak sulit, hanya perlu tiga langkah. Pertama, menulis pertanyaan (kami mengandaikan pembaca sudah tahu bagaimana merumuskan butir pertanyaan dalam kuesioner sesuai metodologi penelitian sosial); kedua memilih sasaran responden; kemudian ketiga melakukan konfirmasi dan pembayaran.

Langkah 1: Menulis pertanyaan

Jika Anda pernah membuat kuesioner di Google Forms, maka Anda pasti bisa mengisi pertanyaan di Google Surveys. Namun, perlu diperhatikan bahwa jumlah pertanyaan maksimal dalam Google Survey adalah 10 butir. Jika survei Anda membutuhkan pertanyaan screening, maka maksimal Anda hanya boleh memasukkan 4 butir pertanyaan, dan Anda hanya bisa menambahkan 6 pertanyaan lagi.

Apa maksudnya? Beberapa survei membutuhkan pertanyaan penyaring untuk menyeleksi responden yang mengisi kuesioner, biasanya berdasarkan profil demografi (gender, usia, wilayah), perilaku, minat, atau sikap. Dalam pertanyaan penyaring, responden yang memilih jawaban yang sesuai bisa melanjutkan mengisi kuesioner (screen in), sementara responden yang memilih jawaban tidak sesuai akan berhenti mengisi kuesioner (screen out). Misalnya, survei yang dilakukan menyasar responden dengan rentang usia 19-39 tahun. Orang-orang yang memilih jawaban di rentang usia tersebut bisa melanjutkan mengisi kuesioner, sementara yang lain tidak bisa. Jika selanjutnya diperlukan data usia responden yang lebih granular, pertanyaan demografi (bukan screening) tentang usia masih bisa dibuat.

Gambar 1: Menulis Pertanyaan

Diambil dari Google Surveys Help

Langkah 2: Memilih sasaran responden

Perlu dicatat bahwa Google Surveys memiliki kebijakan tidak bisa menyasar responden dengan usia di bawah 18 tahun. Selain itu, berbeda dengan negara-negara lain, Google Surveys di Indonesia belum memiliki fitur yang bisa menyasar responden berdasarkan kriteria berdasarkan gender, usia, dan geografi\(targeted audience). Oleh karena itu jika ingin menyasar responden tertentu, Anda harus menggunakan pertanyaan screening dengan jumlah maksimal 4 butir.

Gambar 2: Memilih Sasaran Responden (Amerika Serikat)

Diambil dari Google Surveys Help

Gambar 3: Memilih Sasaran Responden (Indonesia)

Langkah 3: Konfirmasi dan pembayaran

Tinjauan dari Google Surveys

Sebelum pembayaran, survey dikirimkan ke tim GS untuk ditinjau. Proses peninjauan dari tim GS bisa memakan waktu. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses peninjauan bisa berjalan lebih lancar:

  1. Penggunaan ejaan, tata kalimat, dan huruf kapital harus benar.
  2. Pertanyaan tentang data demografi perlu mencantumkan jawaban “opt-out” seperti “tidak mau menjawab”.
  3. Ketika pertanyaan tidak bisa diaplikasikan ke semua orang perlu mencantumkan jawaban “opt-out” seperti “tidak satu pun” atau “lainnya”.

Kebijakan lainnya bisa dilihat di laman Google Survey Help berikut.

Kebijakan tim Google Surveys perlu dipahami dengan baik karena umpan balik dari mereka terkadang tidak eksplisit menyampaikan apa yang salah sehingga perlu diperbaiki di suatu pertanyaan. Jika pembuat survei memahami dengan baik kebijakan Google Surveys, lebih mudah untuk mengerti apa yang salah dari pertanyaan yang ditolak.

Iterasi dengan tim Google Surveys berlangsung maksimal 3 kali, jika lebih dari itu Google Surveys menginformasikan bahwa survei tidak bisa dijalankan. Jika Anda baru membuat survei dengan Google Surveys pertama kali dan sudah lewat dari 3 kali iterasi dan survei Anda ditolak, ini bisa disiasati dengan membuat survei baru dengan isi yang sama. Caranya adalah klik copy pada survei yang lama dan ajukan kembali untuk ditinjau tim Google Surveys.

Pembayaran

Hal yang perlu diperhatikan tentang pembayaran adalah, sampai saat ini pembayaran hanya bisa dilakukan dengan akun Google Surveys yang diset berasal dari Amerika Serikat dengan pembayaran menggunakan USD. Jika Anda melakukan pembayaran dengan akun yang berasal dari Indonesia, maka akan muncul error yang menyatakan bahwa negara dan nilai mata uang yang digunakan tidak sesuai.

Harga Google Surveys lebih murah jika dibandingkan dengan survei konvensional

Harga Goole Surveys dihitung per respon yang selesai. Respon yang selesai adalah ketika seorang responden mengisi survey secara lengkap, dari pertanyaan pertama sampai pertanyaan terakhir. Harga untuk setiap respon adalah IDR 15,000. Bahkan jika menggunakan pertanyaan screening, harganya masih berkisar antara IDR 45,000 - IDR 75,000 karena disebarkan secara daring. Ini lebih murah jika dibandingkan dengan penelitian konvensional yang bisa mencapai IDR 170,000 - IDR 500,000 per responden.

Hasil Google Surveys bisa dilihat dalam hitungan menit saat mulai disebarkan

Hasil Google Survey dapat dilihat begitu survei disetujui dan disebarkan oleh tim Google Surveys. Hasil dimutakhirkan dalam hitungan menit, ketika responden pertama selesai mengisi kuesioner. Survei untuk 100 responden bisa selesai dalam 5 hari, sementara untuk 500 responden bisa dalam 10-20 hari. Ini cukup cepat jika dibandingkan dengan survei konvensional, dimana untuk 3000 responden dibutuhkan 6 bulan, yang berarti 500 responden baru bisa didapatkan dalam 1 bulan (30 hari).

Namun, Google Surveys hanya terbatas untuk penelitian sederhana

Meski mudah, murah, dan cepat, Google Surveys hanya cocok untuk penelitian sederhana yang populasi respondennya adalah pengguna Internet. Anda hanya boleh menggeneralisasi temuan dari Google Surveys ke pengguna internet di Indonesia, dan bukan populasi atau bahkan orang Indonesia.

Kalau Anda rencana berkampanye hanya menggunakan media internet (misalnya media sosial, situs dan blog, iklan di media dan media sosial, mesin pencari), menggunakan Google Surveys untuk survei baseline bisa dicoba. Sebaliknya kalau Anda membuat riset yang temuannya harus digeneralisasi ke level populasi, jangan gunakan Google Surveys.

Kuesioner Google Surveys hanya bisa mengakomodasi maksimal sepuluh pertanyaan termasuk pertanyaan screening. Selain itu, GS tidak bisa mengakomodasi pertanyaan skip logic yang bisa membuat responden punya alur pertanyaan tertentu berdasarkan dari apa yang mereka jawab di pertanyaan sebelumnya. Keterbatasan inilah yang membuat Google Surveys hanya cocok untuk penelitian sederhana.

Share

Written by
Paramita Mohamad

CEO and Principal Consultant of Communication for Change. We work with those who want to make Indonesia suck less, by helping them get buy-in and make changes.

Twitter Instagram

Tingkatkan kemampuan komunikasi Anda hari ini

Hubungi kami

Atau kirim teks ke 089666666727