About

Tentang kami

Communication for Change (C4C) didirikan oleh profesional kawakan dalam komunikasi pemasaran untuk mencegah reformasi di Indonesia jalan di tempat. Kami ingin orang-orang dan organisasi yang berjuang agar Indonesia tidak semakin buruk mendapatkan manfaat dari pengalaman dan keahlian kami dalam branding, iklan, dan pemasaran. 

Mengapa C4C didirikan

Inilah alasan kenapa C4C hadir: “Kami mau membantu orang yang ingin membuat Indonesia jadi sedikit lebih baik (baca: reformis) untuk mendapat dukungan dan membawa perubahan. Kami melakukan ini dengan merancang komunikasi yang bisa mengalahkan ketidakpedulian.”

Para pendiri C4C adalah profesional periklanan yang berpengalaman bekerja untuk pasar lokal maupun global. Kami juga adalah perempuan Generasi X yang lahir dan besar di rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto. Kami dulunya tidak pernah mengira bahwa perubahan mungkin terjadi, namun akhirnya menyaksikan sendiri betul terjadi secara cepat dan begitu banyak. Namun saat ini reformasi jalan di tempat atau mengalami stagnasi. 

Karena stagnasi inilah, dan juga karena bosan kami bekerja di biro iklan komersial, kami mulai beroperasi sejak 1 Januari 2016. Kami memulai dengan keyakinan yang saat itu belum teruji bahwa reformis bisa mengambil metode dan pendekatan dari industri periklanan.

Mungkin karena sejarah kami berusaha menjual barang sehari-hari yang sebetulnya remeh, kami menjadi ahli dalam menarik perhatian dan membujuk orang-orang yang tidak peduli.

Kami selalu memulai usaha komunikasi dengan asumsi orang lain tidak peduli dengan topik yang kita usung, dan itu bukan salah mereka. Karena itulah bisnis kami adalah membujuk, bercerita, dan membingkai narasi, dan bukan memberi penyuluhan.

Di saat yang sama, kami mengamati bahwa reformis (aktivis akar rumput, lembaga penelitian, birokrat, donor) jarang berangkat dari asumsi tersebut. Kami salut pada dedikasi mereka atas isu yang mereka usung, namun mereka sering mengira kalau orang lain sama pedulinya dengan mereka. Itu digabung dengan kurangnya pengetahuan seringkali membuat komunikasi yang mereka lakukan tidak efektif. Di sinilah kami ingin membantu. 

Di industri kami terdahulu, banyak bukti empiris bahwa kampanye yang menggugah emosi lebih efektif daripada yang menggunakan pendekatan rasional, termasuk untuk sektor non profit yang bertujuan mengubah perilaku. Mungkin karena itulah dalam menulis strategi kami menggunakan lensa analisis yang tidak mengasumsikan rasionalitas perilaku manusia. Selama ini, kami telah menggunakan perspektif behavioral economics, teori fondasi moral, dan teori identitas sosial.

Inilah wajah kami

Paramita Mohamad
Paramita Mohamad
CEO & Principal Consultant
Mita sempat mengira ia akan menjadi akademisi, meneliti hubungan antar kelompok beragama. Namun ia malah mendapat pekerjaan di (dan kemudian turut mendirikan) perusahaan riset pemasaran. Di masa gempita dotcom awal, Mita mengepalai bagian pengembangan produk di portal internet pertama di Indonesia, tetapi karirnya melejit begitu bergabung di dunia periklanan. Ia merintis divisi digital di sebuah biro iklan multinasional di Jakarta, sampai akhirnya menjadi Global Planning Director untuk perusahaan multinasional di London dan Paris. Mita juga duduk di Dewan Pimpinan Komunitas Salihara. Di waktu senggangnya, ia ikut mengisi rubrik saran bagi anak muda minoritas seksual di di Magdalene.co, berenang atau bersepeda, dan mengabdikan hidupnya buat trio kucing gantengnya.
Wirya Adiwena
Wirya Adiwena
Consultant
Karir Wirya didorong oleh satu tujuan: mencari tahu bagaimana perubahan dapat terjadi? Dia mulai mencari jawabannya di pekerjaan pertamanya sebagai penerjemah untuk sebuah organisasi serikat petani. Tidak lama kemudian, dia mencoba menjadi seorang akademisi selama beberapa waktu sebelum kemudian bekerja di Kantor Staf Khusus Presiden SBY bidang Hubungan Internasional. Wirya kemudian bekerja sebagai peneliti yang fokus di bidang politik luar negeri dan isu-isu HAM di The Habibie Center, think tank yang didirikan oleh Presiden BJ Habibie. Pengalaman kerjanya membuat Wirya percaya bahwa perubahan tidak terjadi secara kebetulan. Perubahan hanya akan terjadi jika orang-orang yang tepat termotivasi untuk bertindak pada waktu yang tepat. Tapi, bagaimana? Saat ini, Wirya menuliskan jawaban untuk pertanyaan itu di C4C.
Thasia Paulina
Thasia Paulina
Traffic and Finance Manager
Thasia tercemplung ke sektor pembangunan saat dia sedang mengerjakan tesisnya. Karena ia senang jalan-jalan, ia merasa beruntung dapat pekerjaan yang memberikan kesempatan untuk jalan-jalan sambil bekerja. Ia adalah associate researcher dalam valuasi ekonomi untuk beberapa penelitian bersama dengan World Wildlife Fund dan Non-Timber Forest Product (NTFP) Indonesia. Tidak seperti kebanyakan orang, Thasia sangat suka berkutat dengan angka. Agar tidak suntuk, ia mengalokasikan setidaknya satu minggu dalam satu tahun untuk merambah destinasi baru. Sejak 2014, sudah mengumpulkan resep lokal dan menuliskannya di dalam catatan perjalanannya. Satu hal yang dia sadari dalam perjalanannya adalah, semakin jauh kita berada dari Ibukota, maka semakin banyak masalah yang akan kita amati. Satu masalah utamanya adalah rantai komunikasi yang terlalu panjang dan rendahnya efektifitas berkomunikasi. C4C hadir untuk membantu mengurai benang kusut ini.
Andri Kusuma
Andri Kusuma
Sales and Marketing Manager
Terkesima dengan dunia sosial yang dinamis dan multiperspektif, Andri nekat menyebrangkan cita-citanya dari dunia programmer ke penggiat komunikasi. Lulusan Kajian Media ini memulai karir sebagai pekerja lepas untuk berbagai proyek sosial. Setelah merasakan kerasnya dunia e-commerce, si "anak hilang" kembali ke dunia pembangunan dengan bergabung bersama C4C. Sebagai seseorang yang serba bisa, Andri tidak hanya bertanggung jawab untuk memasarkan firma secara keseluruhan, tapi juga menyiapkan pelatihan hingga memfasilitasi sesi bersama Principal Consultant. Di waktu senggangnya, Andri menekuni desain produk digital serta budaya pop baik dari barat maupun timur.
Anastasie Di Gobi
Anastasie Di Gobi
Associate Consultant
Gobi adalah lulusan psikologi dari Universitas Indonesia. Ia memiliki pengalaman sebagai asisten konselor di sebuah lembaga pemasyarakatan di Bogor. Ia menjalani masa magang di Rutgers WPF Indonesia sebagai asisten bidang monitoring dan evaluasi serta konsultan riset. Di luar jam kerja, Gobi juga adalah seorang trainer di Dance4Life International, sebuah organisasi yang bekerja untuk pemberdayaan anak muda. Gobi percaya bahwa perubahan sosial dimulai dari sel terkecil dalam masyarakat, yaitu diri sendiri. Gobi juga selalu meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan favoritnya: bepergian. Ia selalu bersemangat untuk petualangan baru, mulai dari menjelajah kota dan negara baru, berenang di laut, juga mendaki gunung.
Budaya kami

Kami semua bekerja dengan produktif secara jarak jauh. Kami saling mendukung pengerjaan tugas satu sama lain dan di saat yang sama, kami juga menuntut tanggung jawab dari para kolega. Kami mempraktikkan transparansi finansial yang radikal, karena ingin ambil bagian dalam memperbaiki kapitalisme. Kami semua peduli terhadap kesehatan dan kemakmuran baik perusahaan dan karyawannya.

Tingkatkan kemampuan komunikasi Anda hari ini

Atau kirim teks ke 089666666727