Categories
Our insight

Mencari alternatif PowerPoint sebagai pengolah tampilan presentasi

Presentasi punya peran penting dalam menentukan keberhasilan karir dan organisasi Anda. Selain konten presentasi perlu diperhatikan dengan baik, Anda juga tak boleh luput menyiapkan slides (atau menurut KBBI: salindia) dengan tampilan yang menarik. 

Definisi salindia di Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring.

Sayangnya, kita terlanjur nyaman dengan PowerPoint untuk membuat salindia. Tidak banyak opsi aplikasi lainnya yang benar-benar kita gunakan sekhusyuk kita dalam menggunakam PowerPoint. Tidak heran jika PowerPoint diestimasi menguasai sekitar 95% pasar aplikasi pengolah salindia.

Walaupun kita tergantung pada PowerPoint, aplikasi ini punya banyak kekurangan. Mulai dari tata letak default-nya yang menjerumuskan kita untuk menggunakan salindia sebagai teleprompter sehingga presentasi kita mudah penuh dengan tulisan, bullet, kotak, dan panah; template desain yang kurang update; hingga kurang mumpuninya fitur kolaborasi.Buat beberapa pengembang aplikasi, kekurangan PowerPoint tersebut justru dilihat sebagai kesempatan untuk menyediakan berbagai alternatif pengolah salindia (jargonnya: slideware). Untuk membantu Anda memilih aplikasi yang cocok, berikut ulasan dan rekomendasi kami. Sejauh ini, kami baru berkesempatan untuk mencoba lima aplikasi secara mendalam. Artikel ini akan terus diperbarui jika kami menemukan alternatif lainnya yang menarik.

Faktor-faktor yang kami perhatikan saat mencari pengganti PowerPoint

Supaya tidak dianggap fan atau promotor salah satu aplikasi, kami sertakan juga apa saja faktor yang kami lihat saat menggunakan berbagai aplikasi berikut ini.

  1. Pembeda utama. Hal apa saja yang membuat aplikasi ini patut untuk dicoba sebagai pengganti PowerPoint?
  2. Kelengkapan dukungan visual. Apakah aplikasi ini menyediakan akses ke perpustakaan foto, icon, ataupun gif secara daring atau harus kita unggah secara manual? Lalu, seberapa jauh dukungan aplikasi untuk visualisasi data?
  3. Preferensi terhadap fleksibilitas. Kami sadar bahwa tidak semua pengguna menginginkan aplikasi yang kompleks. Ada yang senang dengan kontrol lebih untuk mengatur salindianya sampai benar-benar sesuai keinginan. Sementara, ada juga pengguna yang hanya ingin menyelesaikan tugas/pekerjaannya saja dan puas dengan template yang diberikan. 

Dalam tulisan ini, masing-masing jenis pengguna diwakili dua orang. Mita dan Andri adalah pengguna yang butuh kontrol lebih, sementara itu Wirya dan Gobi adalah pengguna yang memberikan nilai lebih untuk kemudahan dan kepraktisan pemakaian.

Apa saja aplikasi pengolah salindia yang kami ulas?

Berikut beberapa aplikasi pilihan C4C dan kesan kami menggunakannya.

  1. Beautiful.AI
  2. Pasteapp
  3. Pitch.com
  4. Canva
  5. Google Slide

Beautiful.AI

KompatibilitasAplikasi dari peramban (browser)
BiayaGratis, tapi:
a. terbatas untuk hanya membuat 100 slide, dan
b. hanya tersedia 60+ template.

Individu $15 per bulan:
a. jumlah slide tidak terbatas,
b. kemampuan menghilangkan watermark,
c. penyimpanan menjadi berkas PPT yang dapat diedit.

Review Andri:

Saya sangat kagum ketika pertama kali mencoba aplikasi ini. Seluruh tata letak salindia kita diatur oleh mesin. Saya tidak perlu lagi pusing dengan perbedaan ukuran ataupun letak gambar yang tidak rata. Selain itu, fitur untuk pengaturan warna elemen visual di salindia secara otomatis juga sangat impresif, walaupun opsi warnanya terbatas. 

Walaupun sangat mengesankan buat saya,Beautiful.AI bukan produk yang sempurna. Saya masih sering gregetan karena tidak menemukan pengaturan tata letak yang cocok dan fitur crop foto yang kurang bebas. Tidak hanya itu, presentasi yang kita buat di Beautiful.AI hanya bisa diunduh menjadi gambar saja dan tidak dapat diedit di luar aplikasi ini.

Menurut saya, Anda yang tidak ingin pusing dengan tata letak akan sangat menyukai Beautiful.AI. Seperti namanya, semua pengaturan visual sudah diatur oleh kecerdasan buatan.

Review Mita:

Buat saya, Beautiful.AI cocok jika saya sudah merampungkan storyboard dari slideshow saya, dan kelihatan bahwa saya hanya butuh desain sederhana (maksudnya satu salindia satu kalimat, atau satu kalimat plus satu gambar, atau beberapa ikon), dan saya tidak punya banyak waktu (atau tidak ada yang bisa saya suruh) untuk menentukan palet warna, huruf, dan gaya elemen grafis lainnya. Menurut saya rekomendasi gaya desain dari aplikasi ini lumayan berselera baik. 

Untuk kolaborasi, Beautiful.AI tidak sekuat Google Slides; jadi mirip dengan fitur “comments” di PowerPoint saja. 

Review Wirya:

Kadang, kita sudah tahu apa yang akan kita sampaikan saat presentasi. Kita juga sudah merencanakan materi yang akan kita tuangkan dalam slide-nya. Tapi, mengutak-atik tata letak slide, mengatur visualisasi data, dan menata transisi antar slide ternyata memakan cukup banyak waktu kita. Beautiful.AI adalah solusi jitu untuk orang-orang yang tidak mau repot memikirkan hal-hal tersebut.

Ada banyak hal yang dimudahkan oleh Beautiful.AI. Misalnya, dia secara otomatis menyesuaikan tata letak dan ukuran berbagai bagian slide saat kita sedang mencari bentuk yang paling tepat. Menampilkan data juga semakin mudah karena dibantu berbagai visualisasi ciamik. Kita tinggal memasukkan data dan memikirkan cara terbaik untuk menampilkannya–tabel, diagram batang, garis, air terjun, dll–dan Beautiful.AI akan membantu mengemasnya. Rapi. Cepat. Tidak membuat sakit kepala.

Tapi, Beautiful.AI memang bukan aplikasi untuk power-user yang ingin banyak customization. Dan, versi gratisnya tidak menyediakan fitur ekspor ke PowerPoint sehingga dapat menyulitkan kerja bersama tim yang tidak menggunakan aplikasi ini. 

Buat saya sendiri, Beautiful.AI sangat membantu dan menjadi aplikasi andalan pembuat slide presentasi. Recommended!

Pasteapp

KompatibilitasAplikasi dari peramban (browser)
Apple OS (iOS, MacOS)
BiayaGratis, tapi maksimal hanya bisa membuat 3 berkas presentasi.

Individu $12 per bulan:
a. jumlah berkas presentasi tidak terbatas,
b. menghilangkan watermark,
c. private deck (presentasi dengan akses hanya untuk kamu).

Review Andri:

PasteApp menawarkan pengalaman yang mirip Beautiful.AI, namun dengan otomatisasi yang lebih longgar dan harga yang lebih murah. Selain otomatisasi, pembeda utama PasteApp adalah tampilan antar mukanya yang jauh lebih minimalis dibanding PowerPoint ataupun Beautiful.AI.

PasteApp, dalam hemat saya, cocok untuk Anda yang ingin menyiapkan presentasi at the elevent hour. Anda tidak perlu pusing dengan tata letak dan tidak perlu repot mencari aset visual. PasteApp akan sangat menyenangkan untuk Anda jika presentasi Anda tidak perlu menyampaikan banyak data.

Review Mita:

Pernah mengalami situasi ketika Anda bertemu orang yang ingin sekali membantu Anda, tapi Anda malah jadi sangat terbatas geraknya? Mungkin seperti dalam novel atau film Misery

Nah, itulah yang saya rasakan saat menggunakan PasteApp. Ini cocok buat mereka yang ingin membuat portfolio mereka dalam bentuk foto, tapi tidak buat keperluan lain. Alhasil, saya malah mengalami kesulitan dalam merancang salindia sesuai kebutuhan saya, dan akhirnya jengkel, dan akhirnya jera.

Pitch.com

KompatibilitasAplikasi dari peramban (browser)
WindowsApple OS (iOS*, MacOS)Android*
*) masih dalam pengembangan
BiayaGratis:
a. berkas presentasi tidak terbatas,
b. maksimal penyimpanan 10GB per tim,
c. maksimal ukuran unggahan gambar 5MB.

Individu $12 per bulan:
a. kemampuan menghilangkan watermark saat mengunduh,
b. bisa mengunggah video,
c. penyimpanan 10GB per individu.

Review Andri:

Pitch.com impresif tapi tidak meninggalkan kesan yang kuat. Saya pribadi suka dengan tampilan aplikasinya yang minimalis. Beberapa fitur pembeda antara Pitch.com dengan PowerPoint sebenarnya cukup banyak mulai dari tampilan yang lebih ringkas, kontrol visualisasi data yang lebih menyenangkan, dan fitur live session untuk menyiarkan presentasi kita. Namun, kekurangan terbesar Pitch.com di mata saya adalah pustaka aset visualnya yang sangat terbatas.

Salah satu poin utama dari pengalaman penggunaan Pitch.com adalah fitur manajemen tugasnya yang paling lengkap diantara aplikasi lain. Pengguna dapat mendelegasikan sebuah tugas kepada kolaborator lain dan kolaborator pun dapat memberitahukan status pengerjaan lewat menu Workflow. 

Menurut saya, Pitch.com cocok untuk pengguna yang suka membuat presentasi yang minimalis, tapi tidak standar seperti Google Slide dan tetap menginginkan kontrol lebih untuk mengatur tata letak untuk setiap salindia.

Review Mita:

Ini aplikasi favorit saya. Kenapa? Pertama, fItur kolaborasinya setara dengan Google Slides. Kedua, ada fitur “style” yang mirip fungsinya di aplikasi desktop publishing, sehingga kita bisa mengubah banyak elemen sekaligus. Ketiga, sama seperti Keynote yang ada di Mac, aplikasi ini membolehkan kita mengunci posisi sebuah elemen. 

Andri betul bahwa pustaka aset visual Pitch.com terbatas, tapi kita selalu bisa menggunakan file yang kita unggah dari komputer kita. Pitch.com pun membolehkan kita menggunakan huruf kita sendiri. 

Canva

KompatibilitasAplikasi dari peramban (browser)Apple OS (iOS)Android
BiayaGratis, penyimpanan 5GB.

Individu $13 per bulan:
a. penyimpanan 10GB,
b. akses ke aset visual dan template premium,
c. akses menambahkan template presentasi.

Review Andri:

Saya terkejut dengan fitur presentasi Canva. Selama ini saya lebih sering menggunakan Canva untuk kebutuhan media sosial saja. Saat mencoba membuat presentasi dengan Canva, fungsi yang diberikan sama persis dengan saat mendesain materi media sosial. Tapi, saya sangat kagum saat menemukan fungsi export presentasi menjadi website dengan kustomisasi yang memuaskan dan fungsi rekaman sesi presentasi kita menjadi video. Saya belum pernah menemukan dua fungsi tersebut di PowerPoint ataupun aplikasi pengolah salindia lainnya.

Di luar fitur yang mengejutkan tersebut, hal lain yang membuat saya menyukai Canva adalah perpustakaan template dan aset visualnya yang sangat mumpuni. Ada ratusan template dan ribuan aset visual yang bisa kita pakai untuk berbagai konteks presentasi kita. 

Menurut saya, Canva cocok untuk Anda yang menitikberatkan estetika salindia, menjunjung tinggi tingkat kerapian, tapi tidak terlalu banyak bermain dengan data. Kombinasi perpustakaan aset yang besar dan akses kustomisasi yang luas jadi nilai jual utama. Selain itu tersedia pula fitur grid, guide, dan ruler di Canva akan menjadi teman setia.

Review Mita:

Belum pernah coba. 

Review Gobi:

Buat saya, Canva adalah software desain palugada (apa lu minta, gua ada). Mulai dari desain konten media sosial, poster, flyer, hingga slide presentasi. Cara menggunakannya pun sangat mudah.

Yang lebih menakjubkan lagi, Canva juga punya berbagai template desain sesuai kebutuhan kita. Bagi saya yang tidak terlalu mahir dalam hal desain, template-template ini sangat membantu untuk memberi inspirasi agar desain saya terlihat bagus dan profesional. Tetapi sebaiknya kita tidak sepenuhnya menggunakan template Canva, karena template-template ini bisa diakses dan digunakan semua orang. Tentu kita tidak ingin desain kita sama persis dengan milik orang lain, ‘kan?

Sayangnya, Canva tidak terlalu memfasilitasi visualisasi data. Sehingga aplikasi ini kurang sesuai bagi seorang Associate Consultant seperti saya yang perlu menampilkan banyak data. Selain itu, berkolaborasi di Canva juga seringkali tidak lancar jika dilakukan secara real time. Jadi biasanya saya hanya menggunakan Canva untuk mendesain poster, bukan slide presentasi.

Google Slide

KompatibilitasAplikasi dari peramban (browser)
Apple OS (iOS)Android
BiayaGratis

Review Andri:

Kesan saya dengan Slide itu sangat biasa saja. Hampir semuanya terasa sama dengan PowerPoint, mulai dari tampilan default dan kontrol editing yang diberikan. Selain itu, lebih menyedihkannya Google Slide punya pilihan animasi yang lebih terbatas. Google Slide pun tidak punya bank aset visual selengkap aplikasi lainnya yang menghadirkan ilustrasi dan icon eksklusif.

Perbedaan yang cukup berkesan buat saya adalah kemampuan kolaborasi antara banyak pengguna sekaligus. Fitur kolaborasi ini sebenarnya jamak ditemui di aplikasi pengolah salindia daring, tapi menurut saya berkesan karena pertama kali saya temukan di Google Slide. Ketika pertama kali tahu fitur ini, rasanya sangat senang sekali karena kita tidak perlu menghadapi mimpi buruk menjadi satu orang yang menggabungkan presentasi dari teman-teman.

Menurut saya, Google Slide akan cocok digunakan untuk Anda yang merasa insecure untuk mencoba aplikasi yang tampilan antarmukanya berbeda jauh dengan PowerPoint, tapi butuh fitur kolaborasi dan mampu menerima hasil jadi yang standar aja.

Review Mita:

Saya menggunakan Google Slide karena semua orang punya (gratis) dan fitur kolaborasinya luar biasa. Selain itu, makin lama Google Slide makin banyak fitur yang menyenangkan mereka yang (merasa) bisa desain, seperti grid, dan sekarang sudah bisa mengatur jarak antar baris kurang dari 1. Selain itu, situs semacam Slide Carnivals sangat membantu untuk mencari template gratis. 

Dan jangan cemas soal pustaka aset visual, karena sebagai bagian dari G Suite kita selalu bisa menambahkan pengaya (add-on). Untuk Google Slide ada pengaya Noun Project, Unsplash, dan banyak lagi. Namun karena belum ada fitur style, Google Slide menjadi aplikasi favorit kedua saya sesudah Pitch.com

Review Wirya:

Kerja secara remote mendorong kebutuhan akan piranti lunak yang bisa digunakan kolaboratif dan ditampilkan secara daring. Hal ini juga berlaku untuk piranti pembuat slide. Tapi, tidak semua piranti yang ada bisa memfasilitasi ini, misalnya karena penggunaan bandwidth yang berat, atau karena fitur-fiturnya tidak biasa digunakan banyak orang. Google Slides hadir untuk mengisi ceruk tersebut.

Google Slides tidak memberikan fitur tambahan yang membuatnya lebih unggul dari piranti daring lainnya. Bahkan, dia memiliki kekurangan di sana-sini, fiturnya tidak selengkap PowerPoint, tidak semudah Beautiful.AI, template dan perpustakaan visualnya pun tidak secantik piranti lainnya. 

Tapi, Google Slides berhasil membuat piranti yang cukup familiar bagi mereka yang sudah terbiasa dengan PowerPoint. Penggunaan daring-nya pun sangat ringan di bandwidth. Berdasarkan pengalaman kami, kolaborasi daring dapat sangat mudah dilakukan dengan Google Slides, bahkan dengan tim yang tidak terlalu melek teknologi dan dengan koneksi internet yang relatif terbatas.

Google Slides memang sederhana. Tapi kesederhanaan inilah yang membuatnya mudah digunakan dan menjadi keunggulannya. 

Review Gobi:

Aplikasi ini adalah yang paling sering saya gunakan untuk membuat slide presentasi. Alasan utamanya adalah karena aplikasi ini sudah menyatu dengan platform utama kantor kami (dan banyak kantor lainnya), yaitu G Suites. Jadi bisa Anda bayangkan juga bahwa dalam membuat dokumen lain pun, saya biasanya menggunakan Google Docs, Google Sheets, Google Forms, dan teman-temannya. Semuanya terintegrasi dalam satu platform dan bisa diakses dengan satu akun, mudah sekali. Google Slides juga ringan. Kita juga bisa mengaksesnya meskipun koneksi internet sedang kurang stabil.

Selain itu, karena C4C sudah menerapkan remote working sejak awal didirikan, sangat penting bagi kami untuk bisa berkolaborasi online secara real time dengan rekan-rekan kerja sekantor; dan Google Slides memfasilitasi hal ini. Terlebih, karena banyaknya pengguna Google, saya tidak hanya jadi mudah berkolaborasi dengan rekan kerja, tapi juga dengan partner kerja eksternal dan klien. Cara menggunakannya pun sangat mudah, bahkan lebih sederhana daripada Microsoft PowerPoint.

Karena saya adalah Associate Consultant, slide presentasi yang biasanya saya buat adalah strategi komunikasi, rekomendasi, hasil observasi kegiatan komunikasi, dan hasil evaluasi proyek. Jadi, secara visual, kontennya cukup sederhana dan relatif tidak banyak menggunakan elemen grafik. Karena itu, biasanya Google Slides cukup bisa memenuhi kebutuhan saya. 

Akan tetapi, Google Slides memiliki fitur yang terbatas untuk mengolah elemen visual, misalnya dalam mendesain grafik atau chart. Jika saya memerlukan fitur ini, biasanya saya akan mendesain chart yang diperlukan dengan PowerPoint atau Canva, kemudian memindahkan chart yang sudah didesain ke Google Slides sebagai gambar. Tapi saya jarang memerlukan hal ini, sehingga saya tidak terlalu merasa terganggu.