Kategori
Pemahaman kami

Norma Sosial yang Menghambat Perubahan

Norma sosial bisa menghambat perubahan bukan karena orang-orang tidak mau berubah, tapi karena mereka keliru menduga “apa kata orang lain nanti”.

Norma sosial bisa dilihat sebagai pedoman bertingkah laku tentang apa yang boleh (pantas) dilakukan, dan apa yang tidak boleh (tidak pantas) dilakukan. Namun bedanya dengan “aturan” lain seperti hukum, norma sosial bekerja lewat mekanisme “apa kata orang nanti?”. Lebih spesifik, menurut Bicchieri (2015), norma sosial adalah aturan bertingkah laku yang diikuti oleh orang-orang di sebuah komunitas karena mereka percaya orang-orang lain juga mengikutinya sekaligus berpandangan aturan tersebut memang harus diikuti.

Norma sosial besar pengaruhnya dalam memunculkan dan mempertahankan sebuah tingkah laku kolektif (tingkah laku yang dikerjakan oleh banyak orang dalam sebuah komunitas, misalnya perilaku di mana dan bagaimana orang membuang sampah, kapan menikah, apa yang dilakukan di akhir pekan, dan sebagainya). Namun tidak semua perilaku kolektif disebabkan oleh norma sosial. Lihat gambar ini:

Menurut Bicchieri, norma sosial punya daya “paksa” dalam mengatur perilaku kita sehari-hari karena sanksi yang bisa diberikannya adalah sanksi sosial. Sanksi sosial ini menimbulkan emosi yang tidak menyenangkan, seperti malu (shame), tertekan, atau terasingkan. Sanksi sosial muncul, pertama karena seseorang percaya tidak hanya orang-orang lain juga melakukan hal yang sama, tapi terutama karena orang-orang lain mengharapkan mereka untuk mengikuti norma tersebut.

Contoh kasus sederhana tentang bagaimana norma sosial bekerja dapat dilihat pada saat kita memberi iuran lingkungan. Kita akan merasa malu jika memberi iuran dengan jumlah lebih kecil, karena selain para tetangga rata-rata memberi iuran dengan jumlah tertentu, kita takut mereka akan memiliki pandangan yang buruk terhadap diri kita, seperti pelit. Contoh lain adalah ketika kita sedang berbagi makanan dengan sekelompok teman, ketika makanan tinggal satu potong, maka orang-orang akan segan mengambil potongan terakhir, karena takut dianggap rakus.

Norma sosial bisa menghambat perubahan

Adanya sanksi sosial dipandang buruk oleh publik (biasanya disebut sebagai “tetangga” atau “orang-orang”) inilah yang menyebabkan norma sosial bisa menghambat perubahan. Salah satu contoh kasus di Indonesia adalah kasus pernikahan anak. Perubahan perilaku secara kolektif untuk mengurangi insiden pernikahan anak sangat sulit untuk didorong selama masih berlakunya norma sosial yang mengatur bahwa lebih baik anak dinikahkan saja daripada mereka berzina. Norma sosial ini menimbulkan tekanan sosial yang menyebabkan para orang tua yang meskipun secara privat sudah tahu risiko pernikahan anak, terpaksa tetap menikahkan anaknya karena tidak ingin dipandang buruk oleh lingkungan sosialnya, sebagai orang tua yang membiarkan anaknya berzina.

Sayangnya, kebanyakan intervensi dalam mencegah pernikahan anak hanya berusaha mengubah pendapat pribadi seseorang tentang resiko pernikahan anak atau manfaat menunda pernikahan, tanpa berusaha memodifikasi dua komponen utama dalam norma sosial: opini bahwa kebanyakan warga desa akan memilih menikahkan anaknya di bawah umur, dan bahwa warga desa mengharapkan semua orang tua untuk menikahkan anak secepat mungkin.

Kesalahpahaman Norma Sosial

Tekanan sosial yang kuat akibat norma sosial dapat membuat orang tidak berani mengutarakan pandangan pribadi terkait norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu, orang-orang kemudian bisa keliru menduga pandangan sebenarnya orang lain terhadap norma sosial yang berlaku.

Katz dan Allport (1931) melabel fenomena ini sebagai pluralistic ignorance. Pluralistic ignorance menjelaskan bahwa saat seseorang tahu bahwa sikap dan perilakunya dinilai orang lain, ia menjadi enggan mengungkapkan pandangan pribadinya kepada orang lain karena takut dihakimi. Semakin banyak orang yang bertindak seperti ini, semakin mereka akan percaya bahwa pandangan pribadi mereka hanya dimiliki oleh mereka sendiri dan sedikit orang lain yang memiliki pandangan serupa. Akibatnya, orang yang tidak setuju dengan suatu norma sosial percaya bahwa sebagian besar orang lain pasti setuju dengan aturan itu. Akhirnya, meski tidak setuju mereka akan tetap mengikuti norma sosial yang berlaku. Hal ini yang dimaksud dengan kesalahpahaman norma sosial.

. . .

Sumber:

Bicchieri, Christina and Penn Social Norms Training and Consulting Group. Why People Do What They Do?: A Social Norms Manual for Zimbabwe and Swaziland. Innocenti Toolkit Guide from the UNICEF Office of Research – Innocenti.

Bursztyn, Leonardo, Alessandra L. González, and David Yanagizawa-Drott. Misperceived Social Norms: Women Working Outside the Home in Saudi Arabia. Working Paper, March 2020. Forthcoming AER

Goldstein, Markus, et al. “Moving the needle on social norms”. World Bank Blogs, The World Bank Group, 30 May 2019, https://blogs.worldbank.org/impactevaluations/moving-needle-social-norms

Hollingworth, Crawford, et al. “Busting Misbeliefs to Improve Women’s Well-being”. Behavioral Scientist, 3 September 2019, https://behavioralscientist.org/busting-misbeliefs-to-improve-womens- well-being/

Yanagizawa-Drott, David. “Trapped by misperceptions: Women, work, and social norms in Saudi Arabia”. Economics for Society, UBS Foundation of Economics in Society, No.1 2019, https://www

.ubscenter.uzh.ch/en/publications/policy_briefs/trapped-by-misperceptions.html

Share

Written by
Paramita Mohamad

CEO and Principal Consultant of Communication for Change. We work with those who want to make Indonesia suck less, by helping them get buy-in and make changes.

Twitter Instagram

Tingkatkan kemampuan komunikasi Anda hari ini

Hubungi kami

Atau kirim teks ke 089666666727